MAGELANG – Kesempatan kerja yang selama ini sulit diraih oleh penyandang disabilitas kini mulai terbuka lebar berkat kebijakan inklusif yang diterapkan oleh pabrik rokok HS. Di tengah berbagai tantangan yang kerap dihadapi difabel dalam memasuki dunia kerja, langkah yang diambil perusahaan ini menjadi harapan baru bagi mereka untuk dapat hidup mandiri dan berdaya.
CEO Surya Group Company, Muhammad Suryo, menegaskan bahwa perusahaannya berkomitmen memberikan kesempatan yang sama kepada semua orang tanpa terkecuali. Ia menilai bahwa keterbatasan fisik tidak seharusnya menjadi penghalang bagi seseorang untuk mendapatkan pekerjaan dan mengembangkan potensi diri.
“Kami ingin semua orang punya kesempatan yang sama. Tidak perlu pengalaman, yang penting ada kemauan untuk bekerja,” ujarnya.
Komitmen tersebut bukan sekadar pernyataan. Hingga saat ini, sebanyak 35 penyandang disabilitas telah diterima dan bekerja di pabrik HS yang berlokasi di Muntilan, Kabupaten Magelang, Jawa Tengah. Mereka terlibat dalam berbagai aktivitas produksi dan menjadi bagian dari roda penggerak perusahaan.
Para pekerja difabel ini membuktikan bahwa dengan kesempatan yang tepat, mereka mampu bekerja secara produktif dan profesional. Lingkungan kerja yang inklusif juga membuat mereka merasa dihargai dan tidak diperlakukan berbeda dari karyawan lainnya.
Ke depan, peluang tersebut akan semakin terbuka lebar. HS saat ini tengah melakukan ekspansi dengan membangun pabrik baru di Yogyakarta dan Lampung. Proyek pengembangan ini diproyeksikan akan menyerap ribuan tenaga kerja baru, termasuk dari kalangan penyandang disabilitas.
“Kesempatan ini terbuka untuk seluruh teman-teman difabel di Indonesia. Kami ingin mereka juga ikut tumbuh bersama perusahaan,” tambah Suryo.
Selain memberikan pekerjaan, perusahaan juga menunjukkan kepeduliannya melalui penyediaan fasilitas mess gratis khusus bagi karyawan difabel. Fasilitas ini sangat membantu, terutama bagi mereka yang berasal dari luar daerah, agar dapat tinggal dengan nyaman tanpa harus memikirkan biaya tempat tinggal.
Bagi para pekerja difabel, kesempatan ini menjadi titik balik dalam kehidupan mereka. Salah satunya dirasakan oleh Tika (35), yang kini bekerja sebagai karyawan linting di pabrik HS. Ia mengaku sebelumnya sering mengalami penolakan saat melamar pekerjaan di berbagai tempat.
“Dulu saya sering ditolak. Sudah mencoba ke banyak tempat, tapi tidak pernah berhasil. Di sini saya diberi kesempatan dan bisa bekerja,” tuturnya.
Kini, Tika merasakan perubahan besar dalam hidupnya. Selain memiliki penghasilan tetap, ia juga merasa lebih percaya diri dan dihargai di lingkungan kerja yang suportif.
“Di sini saya merasa dihargai. Tidak ada perbedaan, semua diperlakukan sama,” katanya dengan mata berbinar.
Hal serupa juga disampaikan Tenyria Swastika, karyawan difabel lainnya. Ia mengaku sangat bersyukur tidak hanya mendapatkan pekerjaan, tetapi juga fasilitas yang menunjang kenyamanan selama bekerja, termasuk tempat tinggal gratis yang disediakan perusahaan.
“Semoga ke depan semakin banyak teman-teman difabel yang bisa bekerja di sini. Terima kasih atas kesempatan dan perhatian yang diberikan,” ucapnya.
Langkah yang dilakukan pabrik rokok HS ini diharapkan dapat menjadi inspirasi bagi dunia industri di Indonesia untuk lebih terbuka terhadap penyandang disabilitas. Dengan semakin banyaknya perusahaan yang menerapkan prinsip inklusivitas, diharapkan kesenjangan akses kerja dapat berkurang dan para difabel memiliki peluang yang lebih besar untuk hidup mandiri, sejahtera, serta berkontribusi dalam pembangunan.**






