Semarang – Sebanyak 38 siswa SMAN 1 Semarang mengikuti program eduwisata yang digelar Perum Bulog Kantor Wilayah Jawa Tengah untuk mempelajari proses penyerapan, pengolahan, hingga distribusi beras, Selasa (21/4/2026).
Kegiatan ini membawa para siswa mengunjungi Sentra Penggilingan Padi (SPP) Kendal dan Kompleks Pergudangan Palebon Semarang. Di lokasi tersebut, mereka melihat langsung tahapan pengelolaan pangan, mulai dari gabah kering panen hingga menjadi beras siap konsumsi.
Pengalaman ini memberikan pemahaman nyata kepada siswa tentang rantai pasok pangan yang selama ini lebih banyak dipelajari secara teori. Mereka juga memperoleh gambaran mengenai peran strategis Bulog dalam menjaga ketersediaan dan stabilitas beras nasional.
Salah satu siswa kelas 10, Jesika, mengaku senang mengikuti kegiatan tersebut. “Melalui kegiatan ini, saya jadi tahu bahwa stok beras di Bulog sangat melimpah dan kualitasnya baik untuk dikonsumsi masyarakat,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Eloi Sinatra. “Wisata edukasi ini membuka wawasan saya bahwa Bulog benar-benar berperan dalam menjaga swasembada padi dan ketahanan pangan Indonesia,” katanya.
Pemimpin Wilayah Perum Bulog Kanwil Jawa Tengah, Sri Muniati, menjelaskan bahwa program eduwisata ini merupakan inisiatif dari kantor pusat yang dilaksanakan secara serentak di seluruh Indonesia.
“Tujuan utamanya adalah mendekatkan kegiatan Bulog dalam pelaksanaan program serapan gabah dan beras kepada masyarakat, khususnya generasi muda,” jelasnya.
Menurutnya, pelibatan pelajar penting untuk memberikan pemahaman yang akurat terkait kondisi ketahanan pangan nasional sekaligus menangkal disinformasi.
Ia menambahkan, kegiatan ini juga diharapkan dapat membuka wawasan siswa untuk melanjutkan pendidikan di bidang pangan, agribisnis, maupun manajemen logistik.
Bulog, lanjutnya, terus berkomitmen menjaga ketersediaan pangan dengan memastikan seluruh proses, mulai dari penyerapan gabah hingga distribusi beras, berjalan optimal.
Saat ini, stok beras nasional berada dalam kondisi aman sekitar 5 juta ton, sementara di Jawa Tengah mencapai sekitar 355 ribu ton.
“Ketersediaan ini menunjukkan bahwa ketahanan pangan kita dalam kondisi aman dan terkendali,” pungkasnya.*





